Pendidikan Dini, Manfaatkan Kesempatan Sebelum Terlambat

Bagi anak, kegiatan bermain adalah kebutuhan bukan sekadar pengisi waktu luang. Namun, dewasa ini muncul kecenderungan waktu ber­main anak habis untuk berbagai macam kegiatan belajar tanpa unsur permainan. Padahal, kebebasan bermain sangat berkaitan dengan daya kreatif dan imajinasi anak. “Kalau kebebasan bermain tersebut, atau spontanitasnya ditunda, maka di masa selanjutnya daya kreatif, daya imajinasi, bahkan kemampuan belajar anak bakal meng­alami hambatan yang akibatnya bisa serius,” ungkap Anggani Sudono MA, dari Perguruan Islam Al Izhar, Jakarta.

Pembelajaran Dini

Pemasungan daya kreatif anak-anak terjadi karena baik orangtua maupun pendidik terlalu memusatkan per­hatian dan tenaga mereka pada hash akhir (output). Untuk mendapat basil akhir prima dari sang anak, perlu ada masukan yang baik. Inilah yang diupayakan sepenuh hati, melalui les-les yang mahal, kuantitas pengajaran yang berlimpah, dan banyak usaha ekstra lainnya. “Pro­ses belajar memang sering dilupakan oleh mereka yang terjun dalam bidang pendidikan. Mungkin ini disebab­kan mereka memahami otak sebagai a black box,” demikian pendapat Prof. Dr. Sidiarto Kusumoputro, gurubesar Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dengan pendekatan the black box tersebut, yang diperhatikan adalah basil pengajaran harus sama dengan yang diajarkan. Mereka tidak ingin tahu apa yang terjadi di dalam otak, bagaimana otak bekerja dan
prosesnya.

“Mereka mengajar musik sama seperti mengajar ilmu-ilmu lain. Hanya pengetahuan saja. Padahal musik, kalau diberikan secara benar, yaitu bila diajarkan berdasar jenis-jenis dan macam-macamnya yang beraneka ragam bunyi dan nadanya, dinilai mampu meningkatkan daya imajinasi dan pemahaman leas anak,” begitu pengamatan Prof. Sidiarto.

Musik dan juga olahraga (serta pelbagai kegiatan bergerak lainnya) memang banyak menentukan per­kembangan anak untuk masa depan. Dalam bukunya, Celebration of Neurons, Robert Sylwester dari Universitas Oregon, Amerika Serikat (AS), mengungkapkan bahwa anak-anak yang biasa berolahraga, misalnya, lebih mudah menyerap pengetahuan baru karena is sudah terlatih untuk menerapkan sebuah teori (meski sangat sederhana) ke dalam praktik.

Para ahli ilmu otak, seperti ditulis dalam Newsweek edisi Februari 1996, membuktikan musik melatih otak melakukan pemikiran remit. Sebuah penelitian di Uni­versitas California bahkan memperlihatkan anak-anak yang belajar piano dan setiap hari bernyanyi, memiliki kemampuan dan ketepatan pemahaman 80 persen di atas rekan-rekan mereka yang sama sekali tidak terlibat dengan musik. Dalam perkembangan selanjutnya, ke­mampuan tersebut terwujud dalam keahlian meme­cahkan pelbagai masalah matematika dan teknologi.

“Musik dan olahraga sejak awal atau sejak dini itulah kata kuncinya. Ini juga berlaku bagi kemampuan­kemampuan lain macam kemampuan berpikir dan ber­bahasa,” demikian kata Prof. Sidiarto. Yang harus di­ketahui ialah bahwa proses pengembangan kemampuan‑kemampuan itu memiliki batas serap. Setiap otak ma­nusia memiliki periode laju pertumbuhan. Laju itu berkembang dengan kecepatan penuh ketika masa balita. Setelah itu, laju pertumbuhannya akan menurun dan berhenti. Maka sesungguhnya jendela kesempatan (win­dow of opportunity) setiap orang itu tidak panjang.

***

Jendela kesempatan memang terkait dengan apa yang terjadi pada otak dan bagaimana otak bekerja memproses sesuatu. Penemuan adanya otak kiri dan otak kanan, yang memiliki cara kerja berbeda, merupakan perubahan fundamental baik bagi ilmu neurologi maupun ilmu­ilmu lain.

Penemuan tahun 1960-an oleh pemenang hadiah Nobel Kedokteran 1981 Roger W. Sperry, David H. Hubel, dan Tosten N. Wiesel (semuanya dari AS), memberi jalan bagi penelitian lanjutan lainnya. Kini diketahui misalnya, bahwa konstruksi jaringan otak ternyata hanya hidup bila diprogram melalui pelbagai rangsangan. Tanpa dirangsang, otak manusia akan tetap “bodoh”. Dengan demikian, rangsangan otak di masa kecil sangat penting. Penundaan hanya akan membuat otak itu menjadi tertutup, tidak bisa menerima program-program bare karena memang laju pertumbuhan otak punya keterbatasan waktu. Untuk kemampuan mate­matika dan logika, kemampuan bahasa, serta kemam­puan musik, misalnya, batas itu berkisar antara 3-10 tahun (lihat Tabel).

Kalau begitu, yang dibutuhkan justru rangsangan yang beragam, bukan masukan yang banyak. Anak bukanlah orang dewasa yang tahu memilah isi, mana yang baik atau buruk. Mereka lebih hidup dengan rangsangan yang kreatif, dan ini membutuhkan suasana kebebasan. Kebebasan pun butuh kesempatan untuk dimanfaatkan.

H. Witdarmono

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *